Sering terjadi di lingkungan hidup kita entah dalam rumah tangga, dalam hidup bertetangga, juga dalam lingkungan yang lebih luas sering terjadiperbedaan pendapat hingga menyebabkan pertengkaran, perkelahian, bahkan sampai pada pembunuhan. Televisi menayangkan adegan-adegan kekerasan: tawuran antar para mahasiswa dan pelajar, perang antar desa, konser band yang berakhir dengan kekacauan, dan banyak lagi, termasuk ‘perang di lapangan sepak bola’. Kita melihat orang saling menyerang dengan wajah yang penuh kemarahan disertai gerakan-gerakan yang penuh kebencian.

Apakah itu sesuai dengan kitab suci? Sifat marah disertai tindakang kekerasan dikecam kitab Suci. Hal ini dapat kita baca dalam kitab suci:“Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan” (Mzm 37:8).  Yesus sendiri juga pernah berfirman, “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus di hadapkan ke Mahkamah Agama …” (Mat 5:22). 

Yesus mengajak kita untuk belajar dari padaNya karena ia Lemah lembut. Lemah lembut adalah kata lain dari kebaikan hati, tidak galak, tidak marah.Belajarlah untuk menahan kemarahan kita apalagi melampiaskannya dalam bentuk kekerasan terhadap sesama.Ia juga menegaskan kepada kita untuk tidak angkuh atau sombong. Kesombongan adalah lawan dari Rendah hati. Kesombongan adalah salah satu dari tujuh dosa pokok manusia. Di mana saja ada orang yang angkuh, ia tidak disenangi sesama, apalagi oleh Allah: “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN (YHWH), sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman” (Ams 16:5).

Ada yang sombong karena kekayaan, ada karena kecantikan, ada karena sukses. Juga kesombongan rohani seperti menganggap remeh orang lain karena ia rajin berdoa, membaca kitab suci. Dalam kitab suci jenis kesombongan rohani ini paling ditentang Tuhan Yesus. Contoh dalam Injil dari orang-orang seperti ini adalah ‘para ahli Taurat’, ‘orang Farisi’, juga ‘orang Saduki’ dan para imam kepala. Demikian pula dalam nasihat Petrus: “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.’ Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” (2 Ptr 5:5-6; bdk. Ams 3:34).  Marilah kita mohon kekuatan dari Allah agar dapat mempraktekkan keutamaan keutamaan itu. Dengan demikian kita belajar menjadi sempurna seperti Bapa kita di surga sempurna adanya.***