BECKHAMKamis Pekan II Paska: Peringat Wajib Santu Stanislaus, Uskup dan Martir

Kis 5:27-33; Yoh 3:16-21

   Santo Stanislaus lahir dari sebuah keluarga katolik saleh di Polandia Selatan tepatnya, Szczpanow. Ia lahir saat ibunya telah    memasuki usia senja. Sehingga boleh dikatakan kelahiran Stanislaus kecil, sebagai hadiah Allah bagi kedua orang tuanya, selalu berkanjang dalam doa, memhonkan seorang anak. Karena itu, ayah dan ibnya mempersembahkan kembali Stanislaus kepada Allah yang telah mendengarkan doa-doa mereka. Tentunya, tindakan kedua orang tuanya ini sejalan dengan cita dan impian stanislaus sendiri yang hanya mendambakan untuk hanya mengabdi Allah sebagai seorang rahib. Dan cita-cita ini, ia wujudkan dengan meninggalkan segala kekayaan orang tuanya, dan sebagai imam dan uskup melayani umat Allah dengan setia, rajin, setia, tidak kompromi dengan kesalahan dan menjadi pengkotbah ulung di keuskupannya, Krakow. Inilah Stanislaus, pengabdi Allah yang penuh iman, penuh percaya dan penuh keyakinan kepada Allah, Sang sumber hidup tanpa takut dan gentar akan kata orang dan kuasa dunia. Sikap-sikap inilah yang patut kita teladani sebagai orang katolik yang percaya pada Kristus dan mengikutiNya dijalan juang kita menggapai keselamatan.

Hal ini, memang sejalan dengan lukisan Lukas dalam kisah rasul hari ini, “kita harus taat pada Allah dari pada manusia”… sebab yang taat akan ditinggikan Allah seperti yang nyata dalam diri Kristus yang tersalib dan dan dibangkitkan Allah. Dan dengan itu, ia menjadi saksi seperti Petrus dan kawan-kawannya; “Kamilah saksi dari segala sesuatu itu. Kami dan Roh Kuduslah yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia”.

Tentunnya, kisah Lukas ini menghantar kita untuk percaya kepada Allah yang telah begitu agung dan dasyat berkarya melalui peristiwa akbar Kristus itu, bagi kita manusia dan dunia yang penuh dosa dan salah, supaya manusia dan dunia bertobat dan percaya. Tujuan utamanya supaya kita peroleh hidup yang kekal, selamat dan bahagia-tidak mendapat hukuman dan kemurkaan Allah, sebagaimana yang diuraikan dalam Yohanes dalam injilnya hari ini. Untuk itu, kita perlu berbalik dari cara hidup kita yang selama ini, mungkin saja lebih mengasihi “perbuatan gelapdaripada “perbuatan terang” dan berniat untuk kembali hanya mencintai yang benar dan adil, jujur, rajin, taqwa dan tekun penuh tanggung jawab, lebih bermoral dan bermurah hati, tanpa rakus dan suka egois sebagai tanda pengabdian kita hanya kepada Allah sebagai orang beriman Kristiani. Itulah bukti iman dan perwujudan iman kita, tanda pengadian dan percaya kita kepada Allah. Bukankah dalam Kristus telah memerdekakan kita dengan cahaya mulianya….? Bukankah Kristus juga bilang jangan takut… aku menyertai kamu hingga akhir zaman? Mari kita berlomba dalam percaya dan perwujudan iman kita akan Tuhan sepanjang zaiarah kita….. Sebab Kristus datang untuk menyelamatkan bukan untuk menghakimi… tetapi yang tidak setia dan tidak percaya pasti dihukum…. yang berkenan diselamatkan, yang menolak dihukum…. Santu Stanislaus, bantulah kami dengan doa-doamu… Tuhan Yesus berkatilah kami hari ini….. Amin.

 Rm. Flaviano, Pr.