Homili P.Vincet Wun, SVD

Minggu, 27 Januari 2013

Salah satu Uskup kelahiran Negeria kembali ke kampong halamannya untuk syukuran setelah tahbisannya. Orang-orang sekampungnya dalam mempersiapkan pesta hanya focus pada kuasa yang sudah ada di tangan anak mereka. Dalam sambutan penerimaan mereka mengungkapkan rasa bangga atas jabatan itu. Mereka berjanji bahwa mereka akan menjadi orang Kristiani yang baik jika ia, sebagai Uskup akan menggunakan kuasanya untuk membebaskan mereka dari salah satu kewajiban dari kesepuluh hukum Allah. Sebelum mereka menyatakan hokum mana yang mereka minta, uskup baru itu menantang mereka dengan menyatakan bahwa 10 hukum Allah itu dari Tuhan bukan dari manusia karena itu tak bias dibijaksanakan. Perayaan segera berubah menjadi kurang enak dan sejak saat itu Uskup telah menjadi lain dari orangnya sendiri. Yesus dalam injil hari ini mirip dengan cerita tersebut.

Seperti Uskup, Yesus datang kekampungnya setelah dipabtis di mana Roh Kudus turun atasNya dan mendeklarasikan Dia sebagai Putera Allah. Seperti Uskup, orang sekampung Yesus menerima Dia terutama dengan bangga dan kagum: ”Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka:’bukankah Ia ini anak Yusuf?’” (Lk.4:22). Seperti Uskup, Yesus diharapkan menggunakan kekuasaannya dan melakukan sesuatu yang khusus bagi orang sekampungNya. Mereka semuanya orangnya sendiri. Dan seperti Uskup, ketika Yesus menyatakan kepada mereka kebenaran bahwa Allah berpihak siapapun, dengan standard yang sama tanpa membedakan maka mereka bangkit menentang dan mengusir Dia dari kota mereka. Yesus memahami ketidakpuasan orang-orang-Nya karena Ia menyadari diriNya dalam tugas perutusan yang dipercayakan kepadaNya. Dalam pengertian kitab Suci, seorang Nabi adalah orang yang menyatakan hal yang akan datang, menjadi juru bicara Allah. Fokus pada Sabda Allah maka selalu berkata: ”Kata Tuhan….” Apakah yang diucapkannya entah menyenangkan atau tidak bukanlah urusannya. Nabi menyatakan kebenaran dan karena itu selalu mencelakakan mereka. Apa itu kebenaran yang disampaikan Yesus kepada orang sekampungnya dalam injil hari ini dan yang membawanya pada problem?

Yesus menyatakan kepada orang Nasaret kebenaran universal dari rahmat Allah. Orang Nazaret, seperti  orang terpilih pada umumnya di zamanYesus, yakin akan gambaran Allah menurut apa yang mereka bayangkan sendiri. Mereka yakin entah benar atau tidak..”Jika Tuhan di pihak kita, Ia harus memihak mereka.” Mereka percaya bahwa Allah yang baik itu hanya untuk umat terpilih. Yesus menyatakan kepada mereka Allah seperti itu tidak ada. Allah yang benar memiliki perlakuan yang sama kepada semua orang.… sejauh mereka mendekati Allah dengan iman dan kebenaran. Untuk menjelaskan masalah itu Yesus mengacu pada Elia dan Elisa yang mengadakan mukjizat hanya di daerah di luar orang kepilihan Tuhan. Umat miliki pendapat yang salah maka Yesus coba menghantar mereka ke kebenaran: Kebenaran adalah bahwa banyak janda di Israel di zaman Elia, ketika tidak turun hujan selama 3 tahun dan 6 bulan, dan terjadi kekeringan di mana-mana, tetapi Elia tidak diutus untuk seorang pun dari mereka kecuali Janda dari Sarfat  di Sidon. Juga di Israel pada zaman Elisa ada banyak orang kusta tapi tidak seorang pun disembuhkan kecuali Naaman orang Syria itu (Lk.4:25-27). Orang yang mendengar itu tidak menerima kebenaran itu sebab pernyataan itu menantang apa yang sudah lama hidup dan menjadi kebanggaan yang membuat mereka merasa aman dengan diri mereka sendiri. Umat Allah selalu mempunyai dua macam guru. Ada Nabi yang hidupnya dan karyanya menyenangkan Allah; yang membicarakan kebenaran Allah kendatipun korbankan popularitas dan segalanya. Dan ada Nabi yang hanya mau menyenangkan umat, menyatakan apa yang mereka inginkan, ikut apa yang menjadi kesukaannya. Kitab suci mengingatkan kita bahwa: ”Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan terlinganya.”(2Tim4:3)

Yang paling utama dari segalanya adalah kasih. Dan awal dari kasih adalah kesadaran bahwa hanya satu umat pilihan Allah, bangsa terpilih adalah Kemanusiaan. Mari kita berusaha menjadi orang baik di dalam keluarga dan masyarakat bukan karena mengikuti kemauan orang yang tidak cocok dengan kehendak Tuhan tapi baik karena taat pada kehendak Allah.