Homili P.Vincent Wun, SVD

13 Januari 2013 -Pesta Pembabtisan Tuhan

 Saya pernah bertemu dengan seorang bapak yang sudah lansia. Ia belum dibaptis. Saya bertanya kenapa ia belum dibaptis sementara anak dan cucu-sucunya semua sudah dibaptis.  Jawaban bapak tersebut patut kita renungkan hari ini: “untuk apa buru-buru dibaptis, lebih baik pada akhir hidup baru dibaptis langsung masuk surga. Lihat saja perilaku anak-anakku keluar dari gereja maki, berkelahi, buat dosa macam-macam. Lebih baik tidak usah dibaptis dulu.” Apakah sikap Bapak ini baik, apakah sikap mereka yang hidup di sekitarnya dapat diteladani? Pada hari baptisan Tuhan Yesus ini mari kita lihat bersama pentingnya Sakramen permandian dalam perjalanan hidup imam kita.

Dalam memahami pesan Sabda Tuhan dalam minggu ini kita perlu mengerti latar belakang kisah hidup orang Israel. Pengalaman terpaksa tinggal di negeri Babilonia membuat umat Israel tidak lagi dapat membanggakan diri sebagai umat pilihan, apalagi sebagai bangsa yang jaya. Mereka menyadari betapa terpuruknya negeri mereka tanpa bias berbuat banyak. Namun pengalaman itu juga memurnikan kepercayaan mereka. Perlahan-lahan muncul kesadaran bahwa Tuhan yang dulu memerdekakan mereka dari Mesir kini juga akan memimpin mereka keluar dari kesesakan batin. Yes 40:1-5 menyampaikan firman Tuhan yang menitahkan kekuatan-kekuatan ilahi untuk menghibur umat. Dalam ungkapan Ibraninya, firman Tuhan itu berbunyi “Ubahlah cara berpikir umat-Ku! Ya, ubahlah!” Kekuatan-kekuatan ilahi diminta agar membesarkan hati umat yang merasa terhukum itu dan menolong mereka sehingga dapat mulai meniti jalan kekemerdekaan batin dan mengenali kembali betapa Tuhan masih tetapdekat. Dalam ayat 9-11 bahkan ada seruan kepada Sion/Yerusalem untuk menyampaikan kabar gembira tadi juga kepada semua penghuni Yehuda. Pada akhir ayat 11 muncul gambaran Tuhan sebagai gembala yang penuh perhatian dan menyayangi umat-Nya. Bacaan pertama ini mengajak orang agar mengambil haluan baru. Dan orang pasti mampu karena kekuatan-kekuatan ilahi sendiri menyertai mereka. Apa hubungan warta seperti ini dengan peristiwa Yesus dibaptis? Marilah kita dalami peristiwa ini.

Ajakan Yohanes untuk bertobat dan membaharui diri mendapat tanggapan banyak orang bahkan Tuhan Yesus sendiri yang walaupun tidak berdosa datang kepada Yohanes, menyerahkan dirinNya untukdibaptis. TeladanYesusinimerupakanajakankepadasemua orang yang sudah terikat dengan dosa asal untuk menyadari keadaannya dan dapat menyerahkan dirinya untuk Pembaptisan.

Gereja mengajar kepada kita tentang Pembaptisan mulai dari anak-anak hingga dewasa karena kita semua dilahirkan dalam dosa. (Kej. 2; Rm.5:19) Manusia kehilangan rahmat Tuhan sehingga dapat menderita dan dapat meninggal. Dosa asal diturunkan kepada semua manusia kecuali Maria sesuai ajaran gereja tentang Maria, “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mz 51:7).

Ajaran dari bapak Gereja seperti St.Siprianus (250) mengajarkan bahwa: ”Pembaptisan yang mengakibatkan penghapusan dosa tidak boleh ditunda.” (Cyprian, Epistles 64) Juga St.Agustinus (422) menyatakan: ”kematian kita terhadap dosa bersama Kristus dan kebangkitan kita kedalam kehidupan baru bersama Kristus’, menjadi dasar bagi gerbang rahmat Pembaptisan kepada semua, baik bayi maupun orang dewasa, sebab semua manusia telah berdosa oleh akibat dosa asal (Lihat St. Augustine, Enchiridion, ch. 42,43,45).

Dengan Pembaptisan kita semua yang sudah jatuh akibat dosa asal, dibuka kemungkinan baru untuk hidup baru dalam pertobatan. Karena pentingnya Pembaptisan maka ditegaskan dalam ajaran Gereja demikian :Kan.867§1. Para orang tua wajib mengusahakan agar bayi-bayi dibaptis dalam minggu-minggu pertama; segera sesudah kelahiran anaknya, bahkan juga sebelum itu, hendaknya menghadap pastor paroki untuk memintakan sakramen bagi anaknya serta dipersiapkan dengan semestinya untuk itu.

Mari di hari Baptisan Tuhan ini kita menyadari betapa pentingnya Baptisan yang telah kita terima dan yang telah mengangkat martabat kita sebagai anak Allah. Perlu bersaksi di tengah dunia lewat tugas hidup kita. Kita tidak boleh menjadi penghalang bagi orang untuk percaya kepada Yesus. Selain dari pada itu sebagai orang tua kita pun perlu menyadari pentingnya pembaptisan agar tidak menunda permandian anak kita hanya karena alasan yang tidak bias dipertanggungjawabkan. Itulah ajakan Tuhan bagi kita sekalian lewat bacaan suci. Mari kita membangun sikap tobat untuk bersaksi di tengah dunia, sekaligus dalam peran sebagai orang tua menghargai sakramen permandian dalam hidup kita dan anak-anak kita.