Homili P.Vincent Wun, SVD

Minggu, 10 Februari 2013

 

Ada paduan suara di salah Paroki di mana ada seorang pria yang tidak bias bernyanyi dengan baik tapi bersemangat untuk jadi anggota koor. Dirigen merasa terganggu maka menasihatinya agar ia berhenti saja. Sedangkan anggota koor lainnya menghendaki agar ia tetap saja untuk meningkatkan kemampuannya. Namun Dirigen tetap bersikeras maka pergilah dia ke Pastor Paroki dan mendesak katanya: “Tolong suruh orang itu yang suaranya tidak baik keluar dari koor jika tidak saya berhenti dari dirigen.”  Atas usulannya itu Pastor pergi memberitahu orang itu. Kata Pastor: ”Sebaiknya kamu tarik diri dari keanggotaan koor paroki ini.” Kata orang itu: ”Apa sebabnya saya harus berhenti dari keanggotaan koor ini?” Jawab Pastor: ”Empat sampai lima orang menyatakan kamu tidak bias bernyanyi dengan baik.” Orang itu tidak hilang akal ia pun menjawab: ”Ok tidak apa, tapi ada juga empat puluh sampai lima puluh umat menyatakan bahwa Pastor tidak bias berkotbah dengan baik.” Injil hari ini mau menceritakan kepada kita sekalian bagaimana Allah menggunakan orang yang tidak laku untuk melaksankan tugas penginjilan.

Dalam bacaan-bacaan hari ini kita dengarkan tentang panggilan Yesaya, sedangkan bacaan II panggilan Paulus dan Petrus serta teman-temannya. Apa yang mereka rasakan ketika mereka menyadari bahwa mereka ada di hadirat Allah. Mereka merasa tidak layak. Yesaya menyatakan: ”Celakalah aku! Aku binasa, sebab aku ini seorang  yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan Semesta Alam.”(Yes.6:5) Paulus merasa diri tidak pantas menjadi rasul sebab ia telah menganiaya umat Allah (1Kor.15:9) Sedangkan Petrus tersungkur depan kaki Yesus dan berkata: ”Tuhan tinggalkan aku, karena aku ini orang berdosa.” (Lk.5:8) Perasaan tidak layak adalah tanda bahwa seluruh diri dikenal Tuhan. Itulah sebabnya kenapa kerendahan hati adalah kebajikan yang pertama dan utama dalam kerohanian otentik. Merasa layak dan mampu, bukanlah menandakan rasa benar dan kesombongan rohani, melainkan sebuah tanda bahwa jiwa belum kenal Allah dengan sesungguhnya.Ketika jiwa mengakui kedosaannya dan ketidaklayakannya di hadapan Allah, Allah mendekat dan mengampuni serta memampukan orang untuk melayani Dia. Dalam kaitan dengan Yesaya, seorang malaikat menyentuh lidahnya dengan bara dari altar dan berkata kepadanya, ”Lihat bara ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni”(Yes.6:7) Dalam kaitan dengan  Simon Petrus Yesus berkata kepadanya: ”Jangan takut; mulai hari ini engkau akan kujadikan penjala manusia”(Lk.5:10). Kwalitas mereka untuk menjadi pekerja Allah tidak datang dari diri mereka sendiri tapi dari Allah. Semata-mata rahmat Allah bukan karena kecakapan mereka. Karena itu Paulus menyatakan, “Oleh karena Rahmat Allah, saya seperti yang sekarang ini”(IKor 15:10)

Dalam perasaan ketidaklayakan sebagai manusia, ada pula kwalitas lain ditemukan dalam ketiga pribadi yang dipanggil Allah untuk tugas perutusan dalam injil hari ini adalah kesediaan pada kehendak Allah dan kesediaan untuk mengikuti petunjuk-Nya. Langsung setelah mendengar suara Tuhan, Yesaya berkata: ”Inilah Aku utuslah Aku.”(Yes.6:8) Petrus dan teman-temannya dalam kisah injil diceritakan “mereka meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus (Lk.15:11) tanpa menoleh ke belakang. Ketika kita mengikuti bimbingan Tuhan dalam hidup kita, kita berkembang dalam budi kita. Hal ini kita temukan dalam mukjizat saat penangkapan ikan. Ia dan teman-temannya telah memukat sepanjang malam tapi sia-sia atau gagal. Mereka andalkan kemampuan sendiri sebagai nelayan dan mengikuti pikiran mereka sendiri sesuai tempat dan cara membuang pukat. Hasilnya gagal. Tapi ketika mereka mengikuti petunjuk Tuhan yang menurut pendapat mereka sia-sia ternyata ada hasilnya. Allah masih membutuhkan pria dan wanita seperti Yesaya, untuk memaklumkan kabar gembira tentang Cinta Allah di Kenisah, atau seperti Paulus yang menjadi misionaris di tanah kafir sampai unjung dunia, juga seperti Petrus jadi corong Allah di tempat kerja dan membawa teman dan orang yang berbisnis dengannya untuk kenal Tuhan. Jika kita merasa tidak layak dan tidak mampu untuk pekerjaan Allah, ketahuilah bahwa itu adalah pikiran manusiawi kita padahal Tuhan membutuhkan.  Anda Siap untuk terima semua risiko dengan mengatakan: ”Atas perintah-Mu kami menebarkan jala”. Mari dalam segala persoalan hidup hendaknya kita selalu biarkan diri dipakai Tuhan untuk tugas apa saja tanpa ragu-ragu karena mengukur diri dengan kekuatan dari Tuhan bukan mengukur kemampuan kita saja.