Homili P.Vincent Wun, SVD

24 Maret 2013 – Minggu Palem/TahunC

Kalau ada versi cerita lain di mana ada pemilik keledai yang tidak mau memberikan keledainya maka cerita kemeriahan Yesus masuk Yerusalem tidak ada dan itu pasti tidak dikehendaki Yesus. Entah pemilik itu pria atau wanita bukan menjadi masalah, yang penting bahwa pemilik keledai itu sudah turut memainkan peran untuk mewujudkan rencana Allah. Tuhan membutuhkan tiap kita untuk memberikan keledai kita sebagaimana pemilik keledai dalam bacaan hari ini. Tidak diceritakan siapa nama pemilik keledai tapi kenyataan bahwa mereka mengerti Allah berpihak pada Yesus dan dengan sukarela mau memberikan keledai mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka mungkin murid Yesus atau sekurang-kurangnya simpatisan. Mungkin ada juga yang berharap dan bertanya, ”siapa Tuhan yang membutuhkan keledai saya?”

Apa harga dari satu keledai? Saat hidup Yesus seekor keledai mempunyai manfaat yang sangat besar. Ia mirip peran sebuah oto ojek, atau juga traktor zaman kita; ia serba bisa. Bisa ke pasar untuk berbelanja membawa belanjaan ke rumah, bias juga dipakai untuk mengolah tanah pertanian karena itu keledai bukan untuk dikendarai seperti kuda, jadi nilai ekonomisnya luar biasa. Oleh karena itu apabila ada orang yang menyerahkan keledai untuk dipakai Tuhan kesediaan itu adalah suatu pengorbanan yang besar. Bukti dari suatu penghayatan iman.

Sekarang coba bandingkan sikap pemilik keledai itu dengan kebanyakan orang beriman di saat ini dalam kehidupan menggereja. Kita berikan contoh: Biasanya kalau kita merencanakan sesuatu untuk kepentingan umum biasanya semua orang punya banyak usulan yang bagus demi kemajuan paroki atau desa dll. Tapi pada saat mewujudkan rencana di mana setiap orang diminta untuk memberikan sesuatu seperti waktu untuk datang bergotong-royong, atau juga sumbangan uang, maka yang terjadi banyak yang tadinya bicara bagus mengundurkan diri tanpa berita, dan tidak berani tampil lagi. Kenapa tidak mau bersuara lagi karena takut berkorban atau tidak rela memberikan apa yang menjadi kebutuhan terbesar dalam hidupnya untuk kepentingan bersama.

Max Lucado dalam refleksinya mengingatkan kita bahwa setiap kita mempunyai keledai  yang Tuhan butuhkan untuk melayaniNya. Ia berkata, kadang saya tertekan karena Allah menghendaki saya memberikan sesuatu kepadaNya dan kadang saya tidak bias memberikannya karena saya tidak tahu jelas untuk apa, dan lalu saya merasa bersalah sebab saya telah kehilangan kesempatan. Di lain kesempatan saya tahu Dia menghendaki sesuatu tetapi saya tidak member karena saya terlalu ingat diri. Di waktu lain, bahkan sering kali saya mendengar Dia dan saya taat padaNya dan merasa terhormat karena mendapat kesempatan untuk membawa Yesus ketempat lain seperti keledai yang membawa Yesus. Mungkin anda mempunyai jawaban juga. Semua kita memiliki keledai. Anda dan saya memainkan peran mengembalikan kepada Tuhan milikNya seperti keledai dalam bacaan hari ini dan dipakai Tuhan untuk berjalan memasuki Yerusalem. Anda punya banyak hal yang bias disumbangkan untuk Tuhan seperti sebuah lagu yang indah, pekerjaan yang baik untuk orang banyak, atau juga lebih dari itu anda menuliskan sebuah cek untuk Dia.

Pertanyaan kita apa keledai milik kita? Apa saja keledai untuk Dia pasti cocok untuk Dia. Hadiahmu adalah miliknya dan keledaimu juga adalah miliknya. Perintah Tuhan Yesus kepada murid-muridnya menjadi buktinya: ”Jika orang bertanya kepadamu mengapa kamu melepaskan keledai itu, harus kau katakan, Tuhan membutuhkannya.” Dengan demikian apapun keledai anda dalam hidupmu, Ingat Tuhan membutuhkannya.