Homili P.Vincent Wun, SVD

17 Maret 2013 – Minggu Prapaska V/C

Berdasarkan kisah wanita pezinah hari ini ada cerita lucu begini. Saat Yesus berkata :”siapa di antara kamu yang tidak berdosa silahkan yang pertama melemparkan batu pada wanita ini.” Tiba-tiba ada seseorang yang melempari wanita itu dengan batu. Siapa dia? Ternyata Maria ibuNya maka kata Yesus: “apakah mama tidak mengerti! Saya hanya mau menguji.” Cerita ini di satus isi baik karena mau menguji kemurnian hati orang Farisi. Sedangkan di sisi lainnya cerita ini kurang baik karena menggambarkan Maria yang tanpa noda itu dalam gambar kemanusiaannya yang penuh dosa. Pribadi terakhir yang bisa melemparkan batu kepada wanita pendosa itu harusnya Maria Perawan, wanita satu-satunya yang paling dikasihi Allah. Kepada Maria Yesus menyatakan hanya menguji. Pertanyaan kita di penghujung puasa ini apa ujian cerita itu untuk kita.

Cerita tentang wanita yang kedapatan berzinah tidak lazim dalam sejarah gereja pertama. Banyak cerita kuno tidak terdapat cerita itu, beberapa memiliki cerita itu seperti dalam injil Yohanes, dan lainnya ada dalam bagian injil Lukas. Beberapa ahli kitab suci berpendapat bahwa cerita itu seharusnya ada dalam injil Lukas. Karena tema itu yang menjadi focus injil Lukas, yakni perhatian pada pendosa, wanita dan belaskasihan Yesus. Kenyataan cerita itu tidak ada dalam beberapa injil awal dan ditemukan di beberapa tempat lain. Ini menunjukkan bahwa beberapa komunitas Kristen telah menghilangkan cerita itu dari Kitab Suci. Ketika Orang Kristen yang kemudian coba untuk menempatkan kembali dalam injil, mereka tidak yakin lagi mana sumber aslinya.

Pertanyaannya kenapa orang menghilangkan cerita ini dari injil? Mereka tidak mengerti kenapa Yesus begitu simpatik dengan orang yang kedapatan berzinah. Sikap mereka berdasakan pada Imamat 20:10: ”Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri orang lain, yakni berzinah dengan istri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.”  Bukankah itu usaha menegakkan keadilan? Ingat saat ada orang yang mau dihukum mati seperti para pembunuh dan pelaku kejahatan, banyak orang menyerukan untuk dibatalkan hukuman mati,kadang suara dari Vatikan, tapi tidak diindahkan. Orang-orang itu tetap dijatuhi hukuman mati. Para pendukung hukuman mati berargumentasi bahwa tidak seorangpun dapat mencampuri urusan putusan pengadilan. Tapi ternyata Yesus melakukan itu. Orang berpikir bahwa belaskasihan dan tidak tegas dalam prinsip itu adalah tanda kelemahan. Mereka itu mungkin termasuk orang Kristen yang mencoba menghilangkan cerita itu dari kitab suci dalam gereja.

Bagaimana orang Kristen dapat memaknai cerita yang luar biasa itu dari perhatian dan cinta Yesus dan atau masih bersikeras pada kesalahan yang dibuat sesamanya? Jawaban masih tergantung pada orang yang membacanya. Ada orang yang mengidentifikasikan diri mereka dengan orang Farisi, hokum harus ditegakkan. Sekarang anda dapat menyadari kenapa mediasi gereja untuk membela orang yang  terjerat hokum ternyata sia-sia. Bukankah Kitab suci menyatakan seseorang yang dirasuk roh dan peramal tidak diizinkan hidup?(Im.20:27) Sikap mereka Hukum adalah keadilan. Kita hanya bertugas menjalankannya.

Tapi kalau kita membaca cerita itu dan menyamakan diri kita bukan dengan orang Farisi tapi dengan wanita itu sendiri maka kita mulai menyadari cerita itu sebagai kabar gembira untuk realitas hidup kita. Seperti wanita itu, kita semua telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.(Rom.3:23) ”Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”(Rm.6:23) Yesus hadir dalam figure pengampun dan penghapus hutang dosa kita. Ia membebaskan kita dalam sapaanNya: ”Aku pun tidak menghukum engkau. Pulanglah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.(Yoh.8:11) Cerita menunjukkan bagaimana sikap Yesus yang berpihak pada pendosa berhadapan dengan hukum. Sikap inilah yang dijalankanNya ketika Ia diadili oleh Pemuka Yahudi dengan tuduhan palsu. Gereja menempatkan cerita itu agar kita dapat menilai diri kita sendiri dalam diri wanita pendosa itu yang diselamatkan Yesus dari hukuman mati, dan Ia sendiri rela mati untuk menyelamatkan kita.

Semoga cerita yang bagus ini menolong kita dalam rangka mempersiapkan diri kita dalam memasuki minggu suci di mana kita melihat Yesus sebagai korban satu-satunya, untuk membebaskan kita dari kematian karena dosa. Mari kita berterimakasih kepada Yesus karena cintaNya kepada kita. Kita berjanji bahwa kita akan komit pada pesanNya yang indah: Pulanglah dan jangan berdosa lagi mulai dari sekarang.