Homili P.Vincent Wun, SVD

14 April 2013 – Minggu Paska III/C

 

Dalam injil hari ini Yesus meramalkan kematian Petrus lewat Penyaliban. Sementara dalam bacaan kedua kita dapat mendengar tantangan yang dialami Petrus. Petrus diperintahkan oleh pemuka agama yang berkuasa agar tidak lagi berkotbah tentang Yesus. Namun Petrus menunjukkan reaksinya dengan mengatakan: ”kami harus lebih taat pada Allah daripada kepada manusia.”  Dengan pernyataan itu Ia mau mengingatkan mereka akan hukum Allah yang pertama dari sepuluh perintah Allah: ”Akulah Tuhan Allahmu…, janganlah ada allah lain selain Aku.”(Kel. 20:2-3)  Lebih taat pada manusia dan melawan kehendak Allah itu berarti dosa penyembahan berhala.

Penyembahan berhala menunjukkan wajahnya dalam banyak bentuk. Orang bisa berhala uang, kekuasaan atau kesenangan; Perilaku orang menunjuk pada penyembahan berhala kalau uang, kekuasaan atau kesenangan mendapat tempat pertama dalam hidup seseorang dan mendapat nilai tertinggi dari segala sesuatu.  Tidak jarang terjadi penyembahan berhala ketika seseorang sedang berkuasa baik dalam gereja maupun dalam pemerintahan dan institusi lainnya. Cinta tanah air adalah hal yang patut dipuji, tetapi ketika hal yang baik itu sudah dihayati secara ekstrim  yang baik itu malah dapat merusak dan berubah menjadi penyembahan berhala. Saat pengadilan penjahat Perang Dunia II  di Nurmberg-Jerman, para pelaku kejahatan perang berkata bahwa mereka adalah patriot sejati; mereka hanya mengikuti perintah. Sikap mereka serupa dengan pahlawan Amerika bagian angkatan laut Stephan Decatur, yang menyatakan “Negaraku, selalu benar, bagaimanapun ia.!”  Saat perang Vietnam, di Mylai, seorang pejabat America melihat ratusan orang, wanita, dan anak yang tak bersalah bergelimpangan mati akibat perang. Dalam sikap membela diri ia berkata: ’Ketika saya diberi perintah saya menempatkan kehendak Negara di atas kesadaran saya sendiri. Saya adalah Warga Amerika.”

Inilah masalah pokok yang dilawan oleh Petrus. Petrus tidak sendirian. Dalam perang dunia II, Franz Jaggerstatter, seorang muda katolik bapak dari 3 anak, menolak untuk menjadi anggota angkatan perang Hitler lalu Ia dibunuh. Martin Luthes King Jr dipenjarakan dan siap untuk mati daripada mentaati hokum perbedaan ras di negerinya. Saat peran Vietnam, Muhamad Ali dan banyak petinju muda lainnya atas kesadaran sendiri menolak untuk naik ring, adalah hal yang menarik dan karena itu Gereja katolik di Amerika saat itu juga membela mereka. Pada puncak perang dingin, Para uskup Katolik menyatakan sikap bahwa kendati America telah memiliki senjata nuklir, tidak diperkenankan untuk menggunakan itu. Sikap gereja melawan Negara itu dipuji Koran terkemukan America yang menyebut itu “suatu sikap terpuji melawan Negara.” Dalam sejarah hidup Purnawirawan Benny L.Moerdani dalam biaografinya ia pernah dua kali melawan Pemimpin besar Revolusi saat itu Presiden Soekarno karena ditawar untuk menjadi Pemimpin Cakrabirawa pasukan khusus Pengawal Presiden yang beraliran Komunisme, dan tawaran kedua yang ditolaknya adalah ditawar untuk mempersunting putrinya. Saya yakin demi iman katoliknya ia menolak kendatipun ditawarkan oleh orang nomor I di negeri ini saat itu. Iman menjadi hal yang pokok dalam mengambil keputusan

Orang bisa saja tidak menyetujui issu ini. Tetapi hal pokok jelas – taat pada Allah harus menjadi utama dalam segalanya termasuk dalam mengurus Negara. Jaggerstatter yang dieksekusi karena melawan aturan pemerintah menyadari hal itu. Benny Moerdani pun menyadari hal ini saat ia ditawari hal yang paling baik di mata duniawi. Dengan kata lain itu dapat dikatakan, Yesusa dalah Tuhan.

Kebanyakan dari kita tidak pernah menunjukkan sikap yang demikian, keputusan hidup atau mati dalam ketaatan pada perintah Allah yang pertama itu. Mari kita belajar dari sikap Petrus ini. Dalam mengambil setiap keputusan Politik maupun keputusan pribadi atau kepentingan lainnya hendaklah Iman kita yang kita anut harus mendapat tempat yang pertama dan utama sedangkan hal yang lainnya mendapat tempat kedua. Iman karena tidak melihat sebagaimana ditegaskan dalam injil minggu lalu, hendaknya kita tunjukkan dalam mempraktekkan iman kita itu dalam segala kegiatan hidup kita setiap hari. Iman harus menjadi hal pokok dan utama dalam mengambil keputusan. Pilih jodoh, harus seiman, pilihan pilihan yang lain apapun iman saya haruslah menjadi hal yang utama. Mari kita berdoa semoga kita semakin belajar untuk hari demi hari semakin setia pada apa yang kita imani, kendatipun harus dibayar dengan harga yang mahal.