Homili P. Vincent Wun, SVD

10 Maret 2013 – Minggu Prapaska IV/C

 

Apa beda antara lembaran uang bernilai seratus ribu yang baru dan lembaran seratus ribu yang sudah kumal? Kalau saya tawarkan kepada anda sekalian pasti keduanya disukai bukan? Demikian kita semua di mata Allah orang baik dan orang jahat sama di mata Allah. “Karena semua orang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.”(Rom.3:23).

Injil hari ini bercerita tentang seorang bapak dengan kedua anaknnya. Awal cerita kita melihat bahwa yang bungsu jahat dan yang lebih tua adalah anak yang baik.Tetapi pada akhir cerita kita melihat bahwa keduanya dalam cara berbeda menunjukkan peran mereka dalam menjaga kesatuan keluarga dan keharmosisan yang Bapak diharapkan sebagai pusat segala sesuatu.

Persoalan dipicu oleh yang bungsu. Tanpa menunggu hingga bapaknya meninggal sudah menuntut warisannya agar dibagikan. Setelah mendapakan haknya ia pergi merantau untuk menikmati hidupnya. Perjalanannya kurang menguntungkan dia karena harta dihabiskan dengan foya-foya dan ia jatuh miskin. Kebetulan ada orang yang memelihara babi memberikan kesempatan kepadanya untuk hidup dari makanan babi-babinya itu, yang bagi orang Yahudi adalah binatang yang kotor, tanda betapa malang nasib anak itu.

Situasi hidup dalam dosa segera menghantar orang pada keadaan di mana mereka kehilangan rasa malu dan respek terhadap orang lain. Tetapi tidak menjadi masalah berapa jauhnya pendosa dari rumah Bapaknya, hati yang penuh kasih seorang bapak selalu mengikuti mereka, dan membisikan dalam hati mereka, “Pulanglah, Pulanglah.” Sikap tidak mengontrol diri, sikap foya-foya si anak bungsu telah menyadarkan dia :dia tidak layak dan kembali dengan berkata: ”Saya telah berdosa; Saya minta ampun” Inilah yang mendorongnya untuk berbuat.

Bagaimana hatinya berdebar ketika mendekati rumah bapaknya, tidak tahu apakah bapaknya akan menerima dia kembali atau tidak. “Tapi sementara ia masih jauh, bapaknya sudah melihatnya dan jatuh kasihan; berlari dan memeluknya dan mencium dia”(Lk.15:20). Si bungsu hendak mengungkapkan apa yang telah disiapkan sebagai pengakuannya tapi bapaknya tidak mendengarkan karena sukacitanya.Yang terjadi adalah berkatalah bapak itu kepada hamba-hambanya: ”Cepat, bawalah pakaian terbaik, pakaikan kepadanya, pasanglah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan sembelihlah domba terbaik, kita rayakan pesta karena anakku mati dan telah hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali, dan mereka mulai merayakan pesta itu.(ay.22-24)

Sikap yang tidak benar dari kakak sulung. Ganti bersukacita karena adiknya yang hilang telah ditemukan kembali, ia malah marah karena pesta penerimaan yang dimeriahkan oleh bapaknya. Dalam kemarahan ia menjauh dari keluarganya sendiri dan dari persta penerimaan itu. Dalam kesendiriannya itu ia bersungut dalam hatinya: ”Tidak adil, tidak adil” -kata yang sering diucapkan ketika kita marah, tidak setuju dengan sesuatu, pembenaran diri dan tindak kekerasan. Dalam melakukan yang “baik” si sulung telah memecahkan kesatuan dalam rumah bapaknya dan kecewa terhadap dirinya. Dosa dari mereka yang tidak cukup baik (si bungsu) sama dengan dosa yang dibuat oleh mereka yang baik (si sulung) sama dalam membangun kesatuan dan keharmonisan dalam rumah bapak.Kita semua adalah pendosa. Di mana dosa semakin menyata seperti yang dilakukan si bungsu atau yang tersembunyi seperti yang dilakukan si sulung, pesan bagi kita sekalian hari ini adalah bahwa kita semua membutuhkan pertobatan dan kembali kerumah bapak. Si bungsu harus berbalik dari cara hidupnya yang salah dan kembali ke rumah bapak dan berubah menjadi putra yang bertanggungjawab dan taat. Yang sulung harus berbalik dari sikap marah dan kekecewaannya dan belajar untuk berbagi segala yang ada di rumah dengan si bungsu.

Setelah mengajar di salah satu sekolah minggu, tentang cerita anak yang hilang sang guru katekis bertanya kepada anak-anak: ”siapa yang paling menderita dalam cerita tadi?” Seorang anak menjawab: ”Lembu yang tambun itu”. Tentu saja. Tapi nasib yang sulung, ada pesta tidak ikut tetapi memilih tinggal di luar, tidak makan daging enak yang dipeliharanya sendiri. Semuanya karena ia tetap pada pendiriannya tentang hal yang tidak benar dan tentang keadilan dan gagal untuk melihat bahwa jalan bapak bukanlah jalan kita. Mari kita belajar untuk menimba makna dari cerita ini untuk usaha pertobatan kita dalam lingkungan keluarga di mana kita hidup.