Homili P. Vincent Wun, SVD

24 Februari 2013 – Minggu Prapaska II/C

Dalam kitab 2 Raj.6 diceritakan bahwa sekali waktu armada Syria, Raja Aram, datang mengepung kota di mana Elisa nabi Allah tinggal. Mereka mau menangkap Elisa sebab ia membela raja Israel dengan nasihat kenabiannya. Gehazi, pembantu Elisa,  terjaga di pagi hari dan ia melihat bahwa mereka dikepung musuh dengan kekuatan besar, hal itu membuat dia menjadi takut dan gentar. Tanyanya dalam hati apakah hamba Allah ini dapat mengatasi serangan ini? Ketika Elisa menyadari bahwa bujangnya sedang gelisah maka ia menenangkan Gehazi dengan berkata: ”Jangan khawatir,  yang ada di pihak kita lebih besar kekuatannya dari mereka.”(2Raj.6:16) Tapi ia tidak percaya karena  kenyataannya hanya mereka berduaan saja. Karena itu Elisa berdoa:” Ya Tuhan, bukalah matanya agar ia dapat  melihat.”(ayat 17) Allah lalu membuka mata Gehazi dan ia melihat di sekitar gunung tempat Elia berada penuh dengan pasukan kereta dan kuda berapi sebagai pelindung. Ketakuannya lenyap. Pada hari itu Elia dengan mudah mengalahkan musuh-musuhnya.

Injil hari minggu kedua Prapaska tahun C hari ini, terjadi setelah Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa “Anak manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”(Lk.9:22). Pernyataan itu bukanlah suatu berita baik bagi murid-murid yang telah menerima Yesus sebagai Mesias, yang harus berhadapan dengan penjajah Roma dan memulihkan kerajaan baru Israel (Kis.Ras 1:6). Banyak murid mulai ragu: apakah Yesus sungguh Mesias yang ditunggu? Apakah Ia sungguh yang datang atas nama Tuhan? Apakah kita tetap mengikutiNya lalu harus dijatuhkan di Yerusalem atau kita mundur sebelum terlambat? Apa yang dipikirkan para murid ini juga merupakan apa yang dipikirkan Yesus seperti Elisa yang menghadapi hambanya Gehazi. Karena itu Yesus memutuskan untuk melakukan sesuatu seperti yang dibuat Elisa.

Pada suatu pagi yang indah, beberapa hari kemudian, Yesus mengundang tiga rasul yang menjadi pemimpin para rasul yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes, pergi bersama Dia untuk berdoa di puncak gunung. Gunung tempat menemui Tuhan seperti  Moses dan Elisa. Digunung Yesus berdoa. Di sana mata para murid, mata rohani mereka dibuka dan mereka menangkap secuil kecil dari kenyataan hidup Yesus, yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya dengan mata fisik mereka. Mereka lalu mendengar suara dari Allah yang tidak kelihatan, “Inilah Putera-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”(Lk.9:35) Inilah penegasan yang mereka butuhkan. Yesus sungguh yang ditunggu satu-satunya.

Surga dinyatakan kepada mereka. Sekarang mereka mau dengarkan Dia dan mengikuti-Nya dalam perjalanan penderitaan yang memalukan hingga kematian Yesus di Yerusalem. Tetapi tidak menjadi masalah  dengan semuanya itu karena mereka telah meyakini satu hal penting: Allah ada dipihak Yesus; kemenangan mutlak ada di tangan-Nya.

Betapa sering kita mengalami hidup yang kejam sampai-sampai pikiran kita penuh dengan keraguan dan kita berkata: ”Dimana Allah?” Berhadapan dengan orang yang hidup sembarangan, dikuasai individualism dan  hidup tidak keruan sebagai umat dalam satu paroki dan mereka menyindir, “Mungkinkah Allah itu ada di tempat ini.” Kebanyakan dari mereka, menjauh dan meninggalkan iman mereka. Bayangkan orang yang punya pengalaman pahit soal  ketidakadilan dan diskriminasi. Ada yang mencari kerja sementara orang yang kurang mampu diberi kerja karena mereka memiliki relasi yang baik dengan pemberi kerja. Mereka mengalami kemajuan dalam masyarakatnya lewat cara yang tidak wajar dengan berkata:”Dimana Tuhan?” Atau anda tahu seseorang yang sedang dalam masalah hidup yang berat, atau keluarga yang menderita penyakit yang tidak bisa diobati, keluarga yang mengalami krisis hubungan suami dan istri, antara orang tua dan anak, atau antara sahabat karib.

Kadang tidakkah kita berpikir sepertinya seluruh dunia sudah runtuh? Pada saat seperti itu kita butuh waktu untuk berada dalam doa dan memohon kepada Tuhan untuk membuka mata kita untuk bisa melihat. Ketika Allah menganugerahkan kita seberkas keabadian lalu kita akan menyadari bahwa segala problem hidup kita hanyalah sementara saja. Lalu kita akan memiliki keberanian untuk menerima arti dari penderitaan dalam hidup ini, karena kita tahu bahwa dalam segalanya Allah ada di pihak kita. Sedikit dari anugerah surgawi  menguatkan kita untuk memanggul salib-salib hidup dan mengikuti Yesus, juga kita tahu bahwa Salib prapaska akan diikuti dengan mahkota Paska, kemenangan.