Homili P.Vincent Wun,SVD

17 Februari 2013 – Minggu I Prapaska / C

Yesus berkata kepada setan bahwa kita tidak hidup dari roti saja. Pikiran yang bagus dalam mengawali masa puasa suci kita. Ia menggunakan term Roti bukan hanya untuk bahan makanan yang kita makan tetapi dimaksudkan untuk hal yang begitu popular dalam dunia kita dewasa ini yaitu Uang. Kenapa? Karena dari uang kita dapat membeli segalanya, membeli makanan dan minuman, pakaian, mobil, TV, computer, beranjangbuana, bahkan bias korbankan manusia lain hanya karena uang. Ada banyak kemelut yang terjadi di daerah kita ini hanya karena uang. Orang mogok sidang, tipu menipu, bahkan jual diri karena uang. Dengan uang orang beli suatu, dengan uang orang lupa harga diri. Banyak orang berpikir bahwa dengan memiliki segalanya sudah menjadi kunci baginya untuk kebahagiaan – dan semakin kita memiliki uang, orang akan semakin berbahagia.  Memang ada kebenarannya tapi itu dalam arti terbatas sebab kalau kita masuk dalam pengertian yang lebih mendalam tentang kemanusiaan dalam kaitandengankehidupan spiritual makaternyatauangbukansegalanya. Ada orang yang bias menghasilkan sesuatu yang lebih dari apa yang bias dibeli dengan uang. Banyak orang tahu akan hal ini, entah diungkapkan dalam kata atau tidak, lihat saja pada hidup agama yang memberikan kepuasan akan kebutuhan yang lebih penting itu. Mereka pergi ke Gereja dan Sinagoga serta Mesjid. Mereka berdoa dan bersujud serta mencoba mencapai sesuatu yang ilahi yang ada dalam diri kita masing-masing. Gereja kita telah mengatur bagi kita beberapa minggu kedepan sebagai waktu istimewa untuk mengembangkan diri kita terutama supaya kita boleh menemui yang ilahi itu dalam diri kita..

Manusia dewasa ini butuh waktu seperti masa Prapaska ini. Cara hidup kita sekarang ini dapat membuat kita sangat sulit untuk memberikan perhatian pada kebutuhan spiritual ini. Ada begitu banyak hal yang menarik perhatian kita sehingga kita melupakan hal yang pentingitu. Kita semua sudah menjurus pada masyarakat pengguna. Hal itu membatasi kita sehingga kita menilai orang sejauh orang itu memiliki apa dan menggunakan barnang apa. Disatu pihak bukan hal yang tidak baik kalau kita memiliki dan menikmati segala yang kita punyai. Allah menghendaki agar kita menikmati segala yang sudah diciptakan-Nya. Allah tidak menghendaki kita untuk miskin namun Ia tahu bahwa dengan kedangkalan dan kemiskinan dalam hal rohani kita berada dalam satu titik yang terburuk dalam hidup kita.

Kekayaan dan Kenikmatan serta Kuasa adalah hal yang penting untuk kita miliki, tetapi ketika ketiga hal itu terpapar jelas bagi kita, membawa kita pada masalah, kita lemah tak berarti. Inilah cobaan yang dihadapi Yesus di padang gurun sebagai tantangan awal karya-Nya. Bagaimana Ia dapat memenangkan pikiran dan hati orang yang akan diselamatkan-Nya? Setan menggariskan program: menarik perhatian, menarik mereka dengan kuasanya, menggunakan kuasa untuk hasilkan barang dunia. Tapi Yesus mempunya program  yang lain, melayani dan menderita, mati di salib, dan mecapai kepenuhan hidup. Dengan cara itu Ia mengalahkan Setan, Ia tetap pada programnya.

Selama masa Prapaska, kita melihat bagimana Yesus masuk padang gurun untuk berdoa dan berpuasa. Di masa doa dan puasa dan amal ini, kita mendapat kesempatan untuk masuk dalam hidup kita sendiri. Apakah tugas yang Tuhan kehendaki daripadaku? Bagaimana Tuhan menghendaki hubunganku dengan orang di duniaku? Adakah sesuatu yang tidak berkenan aku lakukan di sana? Apakah ada sesuatu yang hilang di dalam hidupku? Mungkin sekedar mengingatkan kita bagaimana kedekatanku dengan Tuhan, bahwa Allah selalu di pihakku,  saat senang dan susah?  Saat istimewa ini kita mendapat kesempatan untuk masuk dalam diri, menemukan yang terbaik dalam diri kita.