DOMBAKU MENDENGAR SUARAKU

Kis. 13:14,43-52
Why. 7:9,14b-17
Yoh. 10:27-30

 Hari ini seluruh gereja merayakan hari minggu Panggilan ke-50. Kita semua berdoa mohon Panggilan Imam, Bruder dan Suster untuk menjadi pekerja di kebun Anggur Tuhan. Di hari minggu ini kita diingatkan dalam Pesan Paus Emeritus Benediktus XVI dalam tema: ”Panggilan Sebagai Suatu Tanda Harapan Berdasarkan Iman”, yang kebetulan terjadi dalam Tahun Iman yang menandai tahun ke-50 dimulainya konsili Vatikan II. Ia mengutip pesan Bapak Suci Paus Paulus VI yang menyatakan bahwa Panggilan itu sendiri berhubungan langsung dengan kehidupan seluruh umat beriman. Panggilan yang subur di suatu tempat menjadi indicator dinamika kehidupan iman dan kasih dari setiap jemaat Paroki dan keuskupan sekaligus menjadi bukti kesehatan moral dari keluarga-keluarga Kristen. Katanya: ”di mana dapat ditemukan banyak panggilan imam dan hidup bakti, di sana terdapat banyak orang yang menghayati injil dengan tulus.” Kutipan Paus emeritus Benediktus XVI dalam pesan hari panggilan sedunia ini.
Di hari minggu Panggilan ini bacaan suci berkisar Perjamuan: yang dapat undangan, yang menerima undangan dan segala yang dinikmati. Perjamuan itu adalah hidup yang kekal, hidup yang dimenangkan oleh Yesus dengan kematian dan kebangkitan-Nya, yang kita kenangkan selama masa Paska ini. Dalam bacaan Pertama kita mendengar tentang Paulus dan Barnabas yang berkotbah kepada orang Yahudi dan bukan Yahudi, dan juga menyerahkan hidup mereka dalam nama Yesus. Orang dari bangsanya sendiri menolak ajaran mereka tetapi antara orang yang tidak mengenal Tuhanya itu “semua mereka yang ditentukan untuk hidup kekal menjadi percaya”(Kis.Ras.13:48b) Bacaan kedua mengisahkan hidup yang sempurna setelah kematian: kumpulan besar orang yang tak terbilang banyaknya…, berdiri di hadapan Anak domba…, keluar dari kesusahan besar…, mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, Allah akan menghapus air mata dari mata mereka. Siapa orang-orang itu? Yesus menyatakan kepada kita: ”Dombaku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.  Aku memberikan hidup kekal kepada mereka dan mereka tidak akan binasa dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.”(Yoh.10:29).
Ketika kita mendengar perjamuan yang disebut Yesus sebagai hidup kekal, kita cenderung berfikir tentang hidup sesudah kematian kita. Tetapi pada dasarnya bukanlah demikian. Kita tidak usah menanti setelah mati karena hidup kekal itu dimulai kini, saat ini. Kata-kata Yesus: ”Siapa yang percaya dalam Anak memiliki hidup kekal”.(Yoh.3:36) Atau kata-Nya: “Siapa yang mendengar sabda-Ku dan percaya… ia hidup kendatipun sudah mati. (Yohn.5:24).  Hidup kekal tidak akan berakhir oleh kematian tetapi oleh penolakan total akan rahmat Allah; Yesus dengan kebangkitan dan hidup-Nya. Kita tidak bicara tentang bagaimana hidup ini akan berakhir tapi tentang mutu hidup itu sendiri. Hidup yang ditekuni dalam iman, dan keadilan, dalam kasih, dalam situasi itulah kita sedang memulai perjamuan ilahi dan kita yakin semuanya itu tidak pernah akan berakhir. Tidak semua orang menerima undangan ini untuk mencapai kepenuhan hidup.
Di hari panggilan inilah kita sekalian diundang untuk menyadari janji Tuhan untuk hidup kekal ini. Karena Dia sendiri menjanjikan hidup kekal kalau kita siap mendengarkan suara-Nya, dan bahwa hidup tidak akan berakhir, tapi bisa dimulai saat sekarang, bahwa kita aman dalam bimbingannya. Oleh karena itu kita sekalian di hari minggu Panggilan ini ketika kita mendoakan Panggilan Iman, Bruder dan Suster, hal pokok yang harus diingat adalah apakah mutu hidup keluarga yang kita bangun sebagai keluarga katolik telah sungguh menjadi keluarga yang berkwalitas dalam hal iman dan penghayatannya? Kalau belum kesempatan hari panggilan ini kita membangun tekat baru untuk menciptakan suasana rumah tangga yang penuh iman agar rumah kita menjadi tempat yang subur untuk bertumbuhnya panggilan imam, bruder dan suster. Selain dari pada itu kita diminta dalam pesan Paus di hari panggilan ini agar kaum muda kita yang telah dipenuhi aneka pilihan hidup mampu menjatuhkan pilihan pada pilihan hidup untuk menjadi pelayan bagi banyak orang dengan mengikuti Kristus.
Mari kita bersama berdoa semoga Imam, Bruder dan Suster yang telah mengikuti Tuhan Yesus tetap setia pada jalan hidup ini. Kita pun berusaha membangun hidup keluarga yang bermutu sebagai domba yang mendengar suara Tuhan Yesus karena dari keluarga berimanlah akan muncul benih panggilan. Lalu yang terakhir tapi yang terpenting adalah kita berdoa agar suara panggilan Tuhan di hati kaum muda kita untuk berkerja di kebun Anggur Tuhan hendaknya didengar dan dihargai dan diikuti. Tuhan memberkati. Amin.
Salam, P. Vincent Wun, SVD – Pastor Paroki