Minggu Paskah VI, Tahun C
Oleh P.Vincent Wun, SVD

Betapa sering kita alami dalam kehidupan kita, begitu sulitnya kita merobah sesuatu yang sudah membaku dalam hidup kita. Seperti budaya yang sudah lama kita anut dan mendarah daging dalam segala gerak hidup kita walaupun kalau kita ambil waktu untuk menilai lebih cermat, kadang kurang menguntungkan dan butuh perubahan. Kegiatan 3-BER yang digalakkan uskup Emeritus Keuskupan Atambua dalam rangkamembantuumat Keuskupan Atambua bisa merobah sikap dalam penghayatan budaya hidup yang kadang kurang menguntungkan dari aspek Kristiani, setelah kurang lebih 30 tahun lewat rekoleksi 3-BER, baru terjadi sebagian kecil perobahan sikap seperti lamanya waktu menjaga jenasah, atau soal besar kecilnya belis saat peminangan. Pada dasarnya sulit orang melepaskan kebiasaan kendatipun yang biasa dilakukan nyatanya kurang menguntungkan dari segi iman dan perhitungan ekonomis.

Dalam bacaan pertama hari minggu VI masa Paska ini khususnya dalam Kisah Para Rasul, diceritakan kepada kita bagaimana persoalan yang sangat sulit yang dihadapi gereja awal. Masalahnya adalah orang Kristen awal juga seperti Yesus adalah orang Yahudi yang sudah biasa dalam tradisi dan kebiasaan hidup yang mereka anggap itu berasal dari Allah. Ada banyak aturan yang mengikat termasuk soal makan makanan tertentu. Masalahnya bagaimana dengan orang bukan Yahudi yang bergabung dalam keanggotaan murid Yesus? Apakah mereka harus taat pada semua tradisi itu? Dalam menghadapi masalah itu ada yang berpendapat bahwa mereka harus harus taat, karena hukum Allah tidak bisa dirobah. Dalam keadaan itu Paulus angkat bicara untuk membela mereka yang bergabung dari luar kalangan Yahudi bahwa seharusnya segala itu tidak perlu diikuti orang-orang itu. Inilah situasi yang sulit, suatu masalah baru yang sulit dipecahkan. Bagaimana mereka dapat merobah kebiasaan hidup sementara mereka masih percaya bahwa Allahlah yang menurunkan segala peraturan itu?

Ternyata mereka dapat mengatasi persoalan dan sampai pada keputusan. Putusannya yakni bahwa mereka yang berasal dari luar kalangan Yahudi tidak perlu mengikuti kebiasaan yang telah berlaku di kalangan Yahudi. Dengan demikian Kristianitas menjadi agama yang terbuka bagi semua orang. Lalu bagaimana dengan tradisi yang diwariskan itu? Mereka sepakat dengan apa yang dikatakan Paulus bahwa Allah sedang membuat semuanya baru. Ia mengajak mereka untuk melihat jiwa dari hukum tertulis, dengan mengingat pada kata-kata Yesus: ”Hukum dibuat untuk manusia, bukan sebaliknya.”

Pertanyaannya apa sebabnya mereka dapat menemukan jalan yang begitu bijaksana? Mereka bersaksi bahwa itu semua atas bimbingan Roh Kudus. Dalam injil hari ini Yesus berkata kepada para muridNya pada saat perjamuan malam terakhir bahwa Ia akan mengirimkan Roh Kudus untuk mengajarkan mereka segala kebenaran. Ketika seseorang bergabung dalam komunitas Kristiani, mereka tidak semata tertarik oleh hal yang kelihatan tapi semata atas inspirasi dari Roh Kudus. Mereka menghargai tradisi tapi lebih banyak dipengaruhi oleh bimbingan Roh Kudus sendiri.

Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan mengajarkamu. Itu berarti kita harus selalu siap untuk belajar. Penghargaan terhadap budaya bukan berarti kita jadi sempit. Kita harus selalu siap untuk dibimbing Allah melakukan sesuatu yang baru. Kadang akan terasa sulit. Kita ingat setelah Konsili Vatikan II ada banyak perubahan dalam gereja seperti dalam merayakan misa kudus. Waktu itu banyak orang tidak menyukai perobahan ini bahkan tidak mau menerima. Mereka bersikeras menolak perubahan. Akibatnya mereka yang bersikeras hingga saat ini masih hidup dalam skisma, mereka hanya menyakini Yesus Kristus dan menganggap orang yang membawa perobahan telah mengkhianati Kristus. Suatu tragedi besar!

Dalam hidup kita sekarang ini pun ada banyak sekali persoalan. Ada persoalan yang muncul dalam hidup kita yang membuat kita pertanyakan apakah dengan masalah baru itu kebiasaan kita masih bisa dipertahankan ataukah kita robah. Ada banyak hal dalam gereja di mana kaum wanita meminta supaya merekapun dapat ditahbiskan menjadiiman? Ada desakan dari para homoseksual yang ingin menikah? Ada desakan agar para imam menikah? Masih ada seribu satu masalah baru yang harus dipecahkan. Dalam segala persoalan ini hanya Roh Kudus sajalah yang akan mengajar kita. Mari kita terbuka terhadap bimbinganNya dan mendengarkan Dia.(VW)