Oleh: Paulus Sako Tanouf

(Ketua Seksi Keluarga Paroki St.Yohanes Pemandi Naesleu)

Tuhan menghadirkan setiap orang di dunia melalui kelahiran. Ibu-bapak keluarga mewakili Sang Pencipta untuk melanjutkan keturunan di dunia ini, serentak menampilkan cinta kasih Tuhan yang nyata. Orang tua menjadi peletak dasar bagi perkembangan setiap anaknya. Peranan utama orang tua dalam menata keluarga meliputi berbagai segi kehidupan. Untuk itu kita ikuti beberapa uraian berikut.

Pendasaran Kitab Suci dan Ajaran Gereja

Dalam penciptaan manusia, Allah mempunyai perhatian pribadi dan penuh. Berfirmanlah Allah, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita” (Kej. 1:26). Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27).

Menurut Konsili Vatikan II, secara khusus konstitusi pastoral tentang Gereja di dunia dewasa ini berbicara tentang martabat perkawinan dalam keluarga. Antara lain dapat dibaca sebagai berikut: “menurut hakikatnya perkawinan dan cinta kasih suami-isteri tertujukan kepada adanya keturunan serta pendidikannya. Memang, anak-anak merupakan karunia perkawinan yang paling luhur, dan besar sekali artinya bagi kesejahteraan orang tua sendiri.” (Gaudium et Spes art.50)

Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18).  “Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu…” (Kej. 1:28) Jadi janji nikah suci dan perilaku ibu-bapak, selain menghasilkan gambar dan citra mereka, setiap pasangan sedang meniru Allah yang menciptakan mereka menurut gambar dan citra-Nya.

 Pendidikan Anak-Anak

Pernyatan tentang Pendidikan Kristen di dalam Gravissimum Educationis dikatakan: “Karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik anak mereka. Maka, orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama. Sebab merupakan kewajiban orang tua menciptakan lingkungan keluarga, yang diliputi semangat bakti kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama sedemikian rupa sehingga menunjang keutuhan pendidikan pribadi dan social anak-anak mereka. Adapun keutamaan dalam keluarga Kristen, yang diperkaya dengan rahmat serta kewajiban sakramen perkawinan, anak-anak sudah sejak dini harus diajar mengenal Allah serta berbakti kepada-Nya dan mengasihi sesama, seturut iman yang telah mereka terima dalam babtis.” (Gravissimum Educationis art.3)

Cara dan usaha pendidikan dari orang tua meliputi seluruh kepribadian anak. Pendidikan mendorong perkembangan akal, keadaan fisik, perasaan, moral, komunikasi dan kehidupan social. Kehadiran anak-anak tak terpisahkan sebagai suatu kesatuan dalam keluarga. Orang tua tetap memperhatikan kehidupan anak-anak. Perhatian terhadap disiplin, perkembangan relasi anak, penghargaan, hukuman, tantangan perasaan, keberhasilan dan kegagalan. Orang tua memperhatikan keseimbangan antara bimbingan, juga memberi kebebasan kepada anak tanpa tekanan orang tua termasuk anggota keluarga lainnya. Setiap orang tua berusaha mendampingi anak-anaknya sesuai aturan, warna, hokum dan kebiasaan-kebiasaan positif dalam masyarakat.

 Membiasakan Pola Hidup Anak-Anak

Pendidikan lingkungan hidup yang benar, teratur mulai dari keluarga. Di setiap rumah seorang anak mulai belajar tentng kebersihan, rasa memiliki, memelihara ternak, misalnya kambing, babi, sapi, ayam, dll. Anak-anak dilatih untuk memasak, mencuci piring, membersihkan halaman rumah, menanam jagung dan sayuran. Maka sejak dini anak-anak dilatih untuk terlibat dalam bekerja sesuai jenjang usia dan jenis pekerjaan yang tersedia. Kebiasaan ini melekat dalam diri anak-anak, remaja, juga pemuda-pemudi dalam keluarga. Dan hasilnya demi kebutuhan dan kepentingan keluarga. Pengalaman ini menjadi dasar untuk pengembangan bakat, jenis pekerjaan untuk kemandiriannya.

 Alokasi Waktu

Pekerjaan menjadi panggilan hidup setiap orang. Diperlukan manajemen tenaga dan waktu. Kemampuan seseorang memiliki tujuan-tujuan yang benar untuk dicapai. Perencanaan diatur oleh setiap orang: bekerja teratur, cepat, disiplin diri dan perubahan.

Terdapat tiga syarat untuk berhasil, yakni:

  1. Sesorang memiliki gairah kerja, daya juang, daya tahan, memiliki harga diri.
  2. Seseorang memiliki sasaran, menyususun rencana dan melaksanakannya.
  3. Seseorang mampu berkomunikasi, bergaul, menanggapi, bekerja sama dengan orang lain.

Demikianlah sedikit tefleksi mengenai “Tanggung Jawab Orang Tua dalam Keluarga.

                                                            Kefamenanu, 13 Maret 2013

                                                            Paulus Sako Tanouf