BECKHAMSelasa Pekan Biasa XIII

Kej 19:15-29; Mzm 26:2-3.9-10.11-12

TANTANGAN ITU PERLU

(TUHAN TAMBAHKANLAH IMAN KAMI)

Tentunya, setiap orang mendambakan hidup yang aman, damai, tentram dan bahagia selalu. Dalam harapan, seluruh perjuangan manusia selalu berjalan dalam suasana baik tanpa hambatan hingga suksesnya. Dambaan dan harapan ini merupakan sebuah tabiat manusia. Tabiat ini sesungguhnya melekat erat dalam diri manusia. Seakan manusia tak rela kalau hidupnya selalu berada dalam rintangan dan tantangan. Terhadap setiap tantangan dan rintangan selalu diusahakan untuk dijauhkan dari hidupnya. Rintangan dan tantangan dilihat sebagai jalan perintang jalan juang menuju kesuskesan dan kebahagiaan. Rintangan dan tantangan dilihat sebagai penghambat bahagianya. Lantas orang mati-matian menolaknya dengan berbagai cara dan alasan. Tetapi benarkah demikian?

Gambar reggae ~ Kuwarasanku.jpg (2)

Ternyata, kita menemukan dan bahkan mengalami sendiri, bahwa kehidupan kita, perjuangan kita setiap hari tidak pernah terlepas dari hambatan dan rintangan, tidak pernah semulus bagai sebuah kendaraan yang sedang meluncur dengan lincinnya di jalan tol dengan kecepatan seperkian jam perkilometernya. Selalu saja ada rintangan dan tantangan, ada badai dan taufan yang terus terjadi. Belum selesai satu masalah sudah hadir masalah berikut yang membuat pusing kepala 7 keliling. Ada taufan dan badai yang sifatnya ringan, ada yang sifatnya sedang-sedang rumit tetapi ada juga yang sifatnya berat dan rumit. Semua itu hadir dalam berbagai ragam dan bentuknya. Ada Badai dalam bentuk bencana alam yang hadir dalam Banjir, tsunami, gempa bumi, tanah longsor. Ada badai berupa perkelahian, ada taufan berupa sakit penyakit, ada yang berupa kehilangan karena kecurian, kematian, kekurangan dalam bidang ekonomi, kerja yang tak kunjung memberi hasil baik, dan seterusnya. Itulah taufa kehidupan yang sedang kita hadapi setiap hari yang sering kali membawa kekecewaan, protes penuh kemarahan, frustrasi bahkan ketakutan atas jalan hidup ini. Semua ini tentunya menjadi kenyataan yang telah terjadi dan bahkan sedang kita hadapi dan akan hadapi lagi di waktu sebentar dan akan datang lagi. Mungkin pula harus kita katakan bahwa itu merupakan jalan takdir dan rencana bagi setiap kita. Tapi mengapa kita merasa cemas, kecewa dan takut ? Mengapa kita menolak rintangan dan tantangan ? Bukankah setiap kesuksesan dan keberhasilan, suka cita dan kebahagiaan dialami ketika melewati berbagai derita dan tantangan yang ada ?

18911_10151438822039355_1267685487_n

Tantangan itu perlu. Tantangan itu sangat bernilai dan bermakna artinya. Lewat tantangan seseorang justru mendapatkan berbagai pelajaran bagi dirinya dan bagi jalan juang selanjutnya sebab di dalam tantangan yang dihadapi, dialami seorang akan :

  1. Dididik untuk mendewasakan dirinya.

  2. Dididik untuk makin bijaksana dalam bertindak dan bekerja

  3. Diajar untuk menyadarkan diri bahwa manusia adalah pribadi yang terbatas

  4. Disadarkan bahwa dalam keplemahan dan keterbatasan, manusia membutuhkan sebuah tangan tersembunyi yang lebih dasyat kuasanya : Tuhan.

Kisah Suci hari ini bercerita tentang Yesus dan para murid yang sedang diperhadapkan dengan badai dan taufan di tengah laut. Angin taufan dan badai gelombang laut ganas hampir saja menenggelamkan perahu tumpangan mereka yang tentunya turut mengancam nyawa mereka. Kepanikan, kebimbangan dan ketakutan menjadi teman sejati. Situasi itu, tidak ada cara lain yang dibuat selain meminta bantuan. Teriakan para murid merupakan jalan satu-satunya cara terbaik yang dialamatkan kepada Yesus. “Tuhan, tolonglah, kita binasa”. Sebuah yang sangat mausiawi. Para murid memohon supaya Yesus berbuat sesuatu yang sanggup memberikan ketenangan dan kedamaian, kenyamanan dan ketentraman. Yesus pun bertindak. Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. Meski demikian, Justru Yesus mencela mereka sebagai manusia kurang beriman. Manusia yang yang kerdil iman. Manusia yang tidak ciut iman. “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Yesus menyadarkan mereka bahwa iman adalah jalan utama menghadapi rintangan. Dalam iman, orang berani. Dengan Iman, orang memenangkan perjuangan dihadapan taufan dan badai. Tentunya, inilah yang dimaksudkan Yesus sendiri ketika Ia mangajarkan, Iman sebesar biji sesawi dapat memindahkan gunung. Dengan iman, setan lari terbirit-terbirit, dengan iman penyakit disembuhkan, dengan iman kegelapan dihalau jauh dan terbitlah terang fajar pagi yang membahagiakan.

animasi565

Dengan peritistiwa ini, kita digugah untuk melihat iman kita, melihat keyakinan kita, melihat kepasrahan kita, melihat kesetiaan kita, melihat kepatuhan kita kepada Yesus Sang Guru iman sejati akan kuasa dasyat Tuhan. Tuhan tidak mungkin memberi beban yang lebih besar dari kemampuan kekuatan kita. Badai dan Taufan pun tidak lebih kuat dari kita manusia, yang disebut mahkota ciptaan Allah. Manusia adalah makluk mulia, makluk ilahi Allah di dunia, insan gambaran nyata Allah di dunia. Tetapi manusia begitu panik, ciut dan begitu takut di hadapan berbagai persoalan yang ada. Bukahkan kita diciptakan sempurna ? Ada akal budi, ada rasa dan bahkan iman untuk sebuah karya yang lebih besar dan mengagumkan termasuk untuk menghadapi persoalan-persoalan yang datang menggangu dan menggerogoti setiap laga menuju bahagia dan damai kita. Dengan semua tidak ada yang mustahil bagi manusia dan Allah sendiri. tetapi soalnya sekarang adalah karena kita belum beriman, belum bijak, belum taat dan setia. Maka baiklah bersama kisah suci yang dalami ini kita aigugah untuk senantiasa dalam pasrah dan taat berseru kepada Yesus : Ya Yesus Tambahkalah iman kami. Ya Yesus kami butuh tantangan untuk mendewasa diri kami, iman kami, dan keijaksanaan kami. Tuhan Yesus Berkati Kami…. Roh Kudus Dampingi Kami… Bunda Maria Doakanlah kami yang kurang beriman, kurang bijak dan kurang dewasa ini…….

Rm. Flaviano Kuftalan, Pr.